Bagaimana orang Jawa, bahasa serta budaya Jawa kontemporer yang dipersembahkan oleh Yonathan Rahardjo dalam novel berbahasa Jawa "WAYANG URIP" ini? Dengan membaca novel ini Anda akan dibuat terkesima dan mendapatkan faedah tiada terkira.

Tiga Buku Karya Wong Jonegoro Dilaunching

http://suarabanyuurip.com/kabar/baca/tiga-buku-karya-wong-jonegoro-dilaunching

Tiga Buku Karya Wong Jonegoro Dilaunching
Editor: nugroho
Sabtu, 20 Oktober 2012
ririn w
BEDAH BUKU: Para sastrawan dan penulis Bojonegoro saat menghadiri launching tiga buku GusRis Fondantion.

SuaraBanyuurip.com - Ririn W

Bojonegoro - Gus Ris Fondation kembali melaunching tiga buku karya sastrawan dan penulis asli Bojonegoro, Jawa Timur,  Sabtu (20/10/2012). Peluncuran buku yang dilaksanakan disalah satu Hotel di Bojonegoro itu mengusung tema "Bojonegoro Merayakan Gagasan".

Tiga buku yang di luncurkan itu adalah berjudul Buku yang Membaca Buku karya Nanang Fahrudin.  Dalam buku setebal 93 halaman ini, Nanang- panggilan akrab Nanang Fahrudin, yang lahir di Kecamatan Kanor itu mencoba memotivasi pembaca melalui karyanya agar lebih bisa mengakrabkan diri dengan dunia buku dan tulis menulis.

Isi yang disuguhkan dalam buku itu merupakan lebih dari pengalaman penulis pribadi. Mulai tentang bagaimana dirinya dengan caranya sendiri mengakrabkan diri dengan buku yang dibacanya dan pengalaman-pengalamannya mendapatkan buku.

"Buku saya ini yang paling tipis dan bahasanya Indonesia.  Ini beda dengan 2 karya lain yang menggunakan bahasa Jawa.  Tapi ini semua sama karena intinya ingin menyampaikan pesan," ujar Nanang.

Buku kedua berjudul Untu Emas karya Wartawan Senior sekaligus seniman Bojonegoro, M. Chuzaini atau biasa disapa Kang Zen Samin. Dalam bukunya ini, penulis  banyak mengupas masalah budaya jawa yang mulai pudar ditelan zaman. Penulis berharap melalui tulisan ini, para generasi muda tetap melestarikan budaya Jawa.

"Karena Budaya Jawa itu Adiluhung, kebak tuntunan dari anak Kecil hingga Dewasa," sambung Kang Zen.

Sedangkan buku ketiga berjudul Wayang Urip yang ditulis Yonathan Rahardjo. Dalam bukunya itu, dokter hewan ini menulis karyanya yang mengambil tokoh pewayangan dengan gaya Jawa Kontemporer.  Menurut Yonathan, wayang yang ditulis dalam bukunya ini mengandung pengertian bahwa setiap diri manusia merupakan tokoh pewayangan.

"Karakter satu orang itu mewakili satu wayang," jelasnya.

Sebelumnya, Gus Ris Fondation juga sudah melouncing 3 buku yakni Catatan Sastra dan Cerita Kecil Tentangnya karya Anas Abdul Ghofur,  Gara-gara ka Giri-giri karya sastrawan jawa, Djayus Pete dan Cerita dari Mojodelik yang ditulis Muhammad Rokib.

Gur Ris Fondation, berharap dengan peluncuran buku pada jilid kedua yang bertema"Bojonegoro Merayakan Gagasan" itu bermaksud untuk mengangkat para penulis, khususnya di kabupaten Bojonegoro. Buku-buku yang diluncurkan tersebut merupakan karya wong jonegoro. (rin/suko)